Unjuk Rasa di Mesir Memancing Kekhawatiran

TEMPO.COJakarta – Unjuk rasa ribuan demonstran di sejumlah kota di Mesir pada Jumat, 20 September 2019, waktu setempat oleh demonstran pro-demokrasi langsung memicu kekhawatiran. Demonstrasi itu menuntut agar Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi mengundurkan diri setelah muncul tuduhan korupsi.

Menurut Yehia Ghanem, analis Timur Tengah, unjuk rasa pada Jumat itu mewakili kelompok masyarakat Mesir yang punya pandangan berbeda dengan masyarakat Mesir lainnya.

“Apa yang sedang terjadi di Mesir sekarang adalah sebuah gerakan yang selama ini ditahan-tahan untuk membebaskan negara dari kezaliman,” kata Ghanem, seperti dikutip dari aljazeera.com, Sabtu, 21 September 2019.

Unjuk rasa yang meletup pada Jumat itu memperlihatkan adanya perbedaan pendapat di negara seribu menara itu. Sejak 2013, Mesir melarang unjuk rasa atau persisnya setelah Presiden Sisi, yang ketika itu Menteri Pertahanan Mesir, memimpin kudeta militer mendongkel Presiden Terpilih Mohamed Morsi.

Sejak Presiden Sisi berkuasa, pemerintah Mesir memperkenalkan kebijakan penghematan demi membantu mendorong perekonomian negara itu yang remuk oleh gelombang Arab Spring 2011. Kendati begitu, kemiskinan di Mesir masih tinggi.

Sejumlah ahli di PBB sebelumnya mengungkapkan kekhawatiran mereka atas semakin besarnya penyerangan terhadap kebebasan berpendapat di Mesir, diantaranya pembredelan sejumlah situs pemberitaan dan penahanan terhadap wartawan serta para pembangkang.

Dalia Fahmy, asisten profesor dari Universitas Long Island, Amerika Serikat, mengatakan unjuk rasa pada Jumat, 20 September 2019, sangat berbeda dengan aksi protes pada 2011. Mereka yang berunjuk rasa itu adalah generasi muda Mesir yang umumnya tidak mengalami paska-trauma revolusi Mesir.

Sumber

Berita Terkait

Leave a Comment